Ekologi






Ekologi dalam Perspektif Sastra, Bahasa, dan Budaya

Penulis: Almira Ghassani Shabrina Romala | Adventina Putranti | Harris Hermansyah Setiajid Editor: Fransisca Tjandrasih Adji, Almira Ghassani Shabrina Romala, Chandra Halim, Harris Hermansyah Setiajid Kulit muka: ChatGPT Image Generation Perwajahan isi: Harris Hermansyah Setiajid Cetakan pertama, Juli 2025 iv + 198 hal, 15 x 21 cm ISBN 978-623-99711-9-9 Penerbit Jogja Literary Translation Club Griya Purwa Asri B-360, Purwomartani, Kalasan, Sleman 55571 Surel: jltc.idn@gmail.com www.jltc.live ii

Ekologi dalam Perspektif Sastra, Bahasa, dan Budaya

Daftar Isi

Halaman judul .................................................................................. i Halaman spesifikasi ......................................................................... ii Daftar Isi .......................................................................................... iii Pengantar ......................................................................................... iv Hubungan Alam dan Manusia dalam Novel Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Karya Okky Madasari. ................................................... 1 Mengembangkan Kesadaran Lingkungan melalui Praktik Menulis Kreatif ............................................................................... 19 Perbandingan Aspek Ekologis Dalam Dua Cerita Rakyat Kulon Progo: “Ngrandhu” Dan “Sendang Mulyo” .................................... 27 Upaya Merawat Bumi Melalui Cerita Anak ................................. 38 Perubahan Iklim Dan Sastra Peduli Lingkungan ........................ 49 Peran Pragmatik Dan Humor Untuk Menyampaikan Pesan Ekologis Dalam Meme Lingkungan ............................................. 57 “Air” Dalam Wacana Perubahan Iklim: Kajian Ekolinguistik Berbantuan Korpus ........................................................................ 68 Mengubah Paradigma Pendidikan: Integrasi Generative Artificial Intelligence Melalui Pendekatan Ekologis ..................................... 88 Nama Bagian Tumbuhan Sebagai Sumber Penciptaan Metafora Dalam Bahasa Indonesia ............................................................... 96 Ekospiritual: Harmonisasi Alam Dalam Kepercayaan Masyarakat Tionghoa Indonesia ..................................................................... 106 Sang Pemulih Tata Semesta: Studi Kasus Penanganan Irasional Wabah Penyakit Di Vorstenlanden ............................................. 117 iii

Daftar Isi

Pengantar

Krisis ekologi adalah kenyataan yang tak dapat diabaikan dalam kehidupan kontemporer. Di tengah arus deras industrialisasi, urbanisasi, dan kapitalisme global, hubungan manusia dengan alam mengalami pergeseran mendasar. Alam tak lagi diposisikan sebagai mitra dialogis atau ruang hidup yang setara, melainkan sebagai objek eksploitasi yang dianggap tak terbatas. Hutan ditebang, sungai tercemar, udara dikotori, dan spesies-spesies punah setiap harinya. Di balik semua itu, tersembunyi problem yang lebih dalam: cara manusia memaknai dan merepresentasikan alam di dalam bahasa, sastra, dan budaya. Buku "Ekologi dalam Perspektif Sastra, Bahasa, dan Budaya" hadir untuk menyelami lapisan-lapisan makna tersebut. Ekologi, dalam konteks ini, tidak hanya dibahas sebagai isu lingkungan secara fisik, tetapi juga sebagai medan diskursif tempat berlangsungnya perdebatan tentang relasi manusia dengan alam melalui simbol, narasi, dan konstruksi budaya. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa perusakan lingkungan bukan sekadar akibat dari tindakan fisik semata, melainkan juga lahir dari cara manusia berpikir, berbicara, dan bercerita tentang alam. Dengan kata lain, krisis ekologis adalah juga krisis representasi. Sejak munculnya gerakan ekokritik pada akhir abad ke-20, studi tentang hubungan antara teks sastra dan lingkungan mulai mendapat perhatian yang serius. Lawrence Buell, seorang pelopor ekokritik, dalam karyanya The Environmental Imagination (1995), menyatakan bahwa sastra memiliki kekuatan untuk membentuk kesadaran ekologis masyarakat. Narasi-narasi yang memuat representasi tentang alam tidak hanya memotret kondisi lingkungan, tetapi juga bisa menggerakkan empati, membangun imajinasi ekologis, dan bahkan mendorong perubahan sikap terhadap bumi. Oleh karena itu, membaca sastra dengan lensa iv

Pengantar

ekologi berarti membuka ruang perenungan tentang bagaimana

manusia menempatkan dirinya di dalam kosmos. Namun, hubungan antara ekologi dan budaya tak berhenti di wilayah sastra. Bahasa sebagai medium komunikasi sehari-hari pun berperan penting dalam membangun pandangan manusia tentang alam. Ahli linguistik ekologi, seperti Michael Halliday, telah menggarisbawahi bagaimana struktur bahasa bisa mendorong atau justru menghambat kesadaran lingkungan. Dalam pidatonya yang terkenal New Ways of Meaning: The Challenge to Applied Linguistics (1990), Halliday menunjukkan bagaimana pola konsumsi yang berlebihan tercermin dalam pilihan-pilihan leksikal dan gramatikal manusia modern. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium pembentuk realitas sosial dan ekologis. Budaya pun memiliki peran strategis dalam membentuk sikap manusia terhadap alam. Mitologi, ritual, arsitektur, hingga kuliner, semuanya memuat jejak hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam kebudayaan lokal Nusantara, misalnya, terdapat banyak tradisi yang mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan alam. Konsep Tri Hita Karana di Bali, Sasi di Maluku, atau Huma Betang di Kalimantan mencerminkan kearifan ekologi yang secara turun-temurun diwariskan. Namun, di tengah globalisasi dan modernisasi, banyak dari kearifan tersebut mulai terpinggirkan oleh paradigma antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat segala hal. Buku ini menyajikan tulisan yang membahas isu-isu ekologi dari perspektif sastra, bahasa, dan budaya dengan pendekatan multidisipliner. Budaya populer juga menjadi sorotan dalam buku ini. Film, musik, iklan, dan media sosial seringkali menjadi ruang penyebaran pesan tentang lingkungan, tetapi tidak jarang juga memperkuat praktik-praktik greenwashing, yaitu pencitraan palsu tentang kepedulian lingkungan yang dilakukan oleh perusahaanperusahaan besar. Bagaimana budaya populer membentuk kesadaran ekologis generasi muda? Apakah kampanye-kampanye v

ekologi berarti membuka ruang perenungan tentang bagaimana

ramah lingkungan di media sosial benar-benar efektif, atau justru

menjadi bagian dari konsumsi kapitalistik yang baru? Buku ini mengajak pembaca untuk kritis terhadap narasi-narasi semacam itu. Pada akhirnya, buku ini ingin mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hubungan antara manusia, bahasa, sastra, budaya, dan alam. Kita hidup di era di mana perubahan iklim, krisis air, deforestasi, dan kepunahan spesies menjadi ancaman nyata. Namun, upaya penyelamatan bumi tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan teknis atau ilmiah saja. Kita memerlukan perubahan cara pandang, perubahan paradigma, dan perubahan cara bercerita tentang alam. Sastra, bahasa, dan budaya memiliki kekuatan untuk membentuk ulang imajinasi ekologis manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Ursula K. Le Guin, “Kita hidup dengan cerita-cerita. Cerita-cerita itu bukan sekadar hiburan; mereka adalah cara kita memahami dunia.” Dalam konteks krisis ekologi, kita membutuhkan cerita-cerita baru yang tidak lagi menempatkan manusia sebagai penguasa tunggal bumi, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling terkait. Kita perlu membangun narasi tentang keberlanjutan, kesalingterhubungan, dan kerendahan hati ekologis. Sebagai penutup pengantar ini, izinkan kami mengutip filsuf ekologi ternama Arne Naess yang mengatakan, “Kita harus belajar untuk hidup dengan alam, bukan hanya di atas alam.” Semoga buku ini menjadi kontribusi kecil menuju pembelajaran itu—sebuah upaya untuk membangun kesadaran ekologis melalui sastra, bahasa, dan budaya. Selamat membaca! vi

ramah lingkungan di media sosial benar-benar efektif, atau justru

vii

vii



Flipbook Gallery

Magazines Gallery

Catalogs Gallery

Reports Gallery

Flyers Gallery

Portfolios Gallery

Art Gallery

Home


Fleepit Digital © 2021