
it rb ne Am it rb Pe ne Am za h Am it rb ne Pe za h

it rb ne Am it rb Pe ne Am za h Am it rb ne Pe za h

h Am Dr. H. Cecep Castrawijaya, M.M., M.A. Am Profesional di Era Digital it Kata Pengantar Pe ne rb it Am rb Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. (Imam Besar Masjid Istiqlal) Pe ne Pe ne rb it za h MANAJEMEN MASJID

h A5. 15.270 MANAJEMEN MASJID Profesional di Era Digital Penulis: Dr. H. Cecep Castrawijaya, M.M., M.A. Am Development Editor: Ahmad Faʼiq Am ISBN 978-623-6641-92-7 Am rb it Cetakan pertama, Desember 2023 Design Cover, Fahmy Isfahan Layouter, Tjipto Sutandi Dicetak oleh Sinar Grafika Offset Sumber kover: https://unsplash.com/photos/a-circularmetal-object-with-a-circular-design-on-it-HaEeWqhxmt0 Pe ne rb it Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak buku ini sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan dengan cara apa pun juga, baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk fotokopi, rekaman, dan lain-lain tanpa izin tertulis dari penerbit. Pe ne Pe ne rb it Diterbitkan oleh AMZAH Jl. Sawo Raya No. 18 Jakarta 13220 Imprint Bumi Aksara site: www.bumiaksara.com www.bumiaksaraonline.com e-mail: editorial@bumiaksara.com marketing@bumiaksara.com Anggota IKAPI za h Editor: Amirah Ulinnuha Kurniawan Ahmad

h Am KATA PENGANTAR Am rb it Tren ini menantang kita untuk menciptakan pengelolaan masjid yang lebih profesional. Tidak hanya pengelolaan fisik, tetapi juga pengelolaan manajemen umat di sekitar masjid. Hal yang tentu masuk ke dalam materi dan metode dakwah yang lebih relevan dan komprehensif yaitu pembinaan figur mubalig yang ideal. Di samping itu, pengorganisasian masjid dan berbagai lembaga yang menjadi bagian atau stakeholder masjid perlu diperkuat. rb it Am Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) sebagai lembaga semiresmi yang dibentuk oleh Kementerian Agama diharapkan dapat meningkatkan peran dan fungsi masjid sebagaimana harusnya. Di luar kelembagaan BKM, terdapat pula lembaga Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang dibentuk sepenuhnya oleh masyarakat. Adanya lebih dari satu lembaga yang menangani masjid ini diharapkan tidak membatasi pengelolaan masjid yang ada di tanah air. Bahkan, harapannya adalah kelembagaan itu akan saling bersinergi untuk membudayakan umat melalui masjid. Pe ne Pe ne rb it za h Fenomena terakhir menunjukkan bahwa terdapat tren umat Islam di perkotaan yang akan diikuti oleh umat di pedesaan. Model-model pengelolaan masjid di kota-kota besar banyak diikuti oleh masjid-masjid di daerah. Apalagi semakin berkembangnya beberapa organisasi dan LSM secara nasional yang berorientasi dalam pemberdayaan komunitas masjid, seperti Badan Koordinasi Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dan majlis-majlis taklim. Pe ne Model pengelolaan masjid yang kita kehendaki saat ini dan ke depannya sebetulnya telah dilakukan oleh para pendahulu. Dalam sebuah literatur disebutkan bahwa sebuah masjid di Purwokerto, Jawa Tengah, telah berhasil memberdayakan ekonomi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan v

h muamalah sederhana. Kegiatan yang secara teratur dan berkesinambungan itu akhirnya melahirkan lembaga ekonomi besar yang sekarang kita kenal dengan nama Bank Rakyat Indonesia. Am rb it Potensi umat sesungguhnya dapat diberdayakan melalui kekuatan masjid. Di dalam setiap masjid, pasti ada kelompok pemilik modal, kelompok pekerja, kelompok pemikir, kelompok konseptor, dan kelompok yang dapat mengorganisasi potensi-potensi jamaah itu. Secara fisik, masjid dapat dimanfaatkan sebagai sekretariat dalam sebuah program. Selain itu, jemaah di sebuah masjid juga dapat dianggap sebagai pangsa pasar sebuah produk. ne Sebagai simbol kekuatan umat, masjid juga sebaiknya ditata sedemikian rupa sehingga pantulan mata yang memandang landscape, keindahan, dan kebersihan bangunan fisik masjid memberikan sentuhan batin tersendiri. Jangan hanya gedung-gedung bernuansa sekuler, seperti bank, hotel, dan kantor, yang tertata dengan baik dan bersih. Sah dan batal atau tidaknya sebuah ibadah berkaitan dengan masalah kebersihan. Jadi, seharusnya, masjidlah yang harus lebih bersih dari tempat-tempat lainnya. rb it Pe ne Pe Am rb it za h Am Profesionalisme pengelolaan masjid tentu saja tidak harus sama dengan pengelolaan lembaga-lembaga lain, seperti lembaga bisnis. Pengelolaan masjid diharapkan tidak menenggelamkan aspek kekharismatikan (untuk tidak menyebut kesakralan) masjid. Jika perlu, pembinaan masjid dapat lebih mengedepankan aspek pembinaan kesejahteraan spiritual. Masjid sebaiknya menjadi semacam oase spiritual, yaitu tempat khusus (space) bagi orang-orang untuk memperoleh pencerahan spiritual yang sulit ditemukan di tempat lain. Ketika hampir semua space sudah menjadi sekuler dan profan, jangan sampai semua masjid lebih menonjol sebagai “gedung serbaguna” sehingga orang tidak bisa lagi khusyuk dalam menjalankan salat. Takmir masjid yang ideal ialah memultifungsikan masjid tanpa mengeliminasi orisinalitas dan kekuatan nilai spiritual di dalam masjid itu, sebagaimana diisyaratkan dalam Surah At-Taubah [9]: 108. Pe ne Masjid, sebagai sumber kekuatan umat yang sangat penting, sudah saatnya diberdayakan secara profesional. Mubazir jika potensi strategis ini disia-siakan. Semakin cepat melakukan pembenahan, maka masjid semakin baik. Sebab, tingkat kebutuhan dan kesadaran umat terhadap masjid dan musala semakin terlihat. vi

h Pembinaan dan pengelolaan masjid tentu tidak hanya terpaku pada hardware masjid, tetapi juga pada software pembinaan masjid itu. Tidak harus menjadi masjid besar untuk melakukan sesuatu yang besar di dalam masyarakat. Sebuah masjid kecil pun dapat mengahasilkan daya jangkau yang efektif sehingga dapat dirasakan oleh masyarakat. za h Am Takmir masjid yang ideal bukan hanya berhasil dalam pelaksanaan berbagai acara seremonial, melainkan juga dalam aspek penghayatan maknanya. Sukses dan tidaknya sebuah dakwah tidak diukur dari keberhasilan seorang mubaligh membuat jamaah menangis tersedu-sedu atau tertawa terbahak-bahak, tetapi seberapa banyak materi itu berbekas dan dijadikan pedoman di dalam kehidupan pribadi jamaah. Am it Jakarta, 2023 ne rb it Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. (Imam Besar Masjid Istiqlal) Pe Am rb Pe ne Pe ne rb it Buku yang ditulis oleh Dr. H. Cecep Castrawidjaya, M.M., M.A. ini adalah salah satu ijtihad intelektual dan spiritual untuk menciptakan masjid yang ideal secara teologis dan sosial. Pembahasannya yang kritis dan solutif terkait manajemen masjid mencakup struktur kepengurusan, administrasi, keuangan, dakwah, serta peluang dan tantangan yang dihadapi berbagai masjid di era digital. Karya ini perlu disambut baik dan diapresiasi, mengingat masjid semakin menjadi salah satu pilihan terbaik bagi lapisan masyarakat mana pun untuk bereksistensi. vii

h za h Am َم ْن بَنَى َم ْسجِ دً ا َك َم ْف َح ِص قَ َطا ٍة أ� ْو أ� ْصغ ََر بَنَى Am it rb لَ ُه بَيْتًا ِفى الْ َجنَّ ِة Pe ne rb it Am rb it (H.R. Ibnu Majah No. 738) Pe ne Pe ne “Siapa yang membangun masjid karena Allah, walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” viii

Fleepit Digital © 2021