BASAKALIMANTAN WIKI Edisi Keenam menyoroti inisiatif partisipatif yang digerakkan oleh kalangan muda Banjarbaru melalui Wikithon bertema Mangarani Taman. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya BASAkalimantan Wiki untuk melibatkan komunitas pelajar, mahasiswa, dan komunitas pemuda dalam kebijakan publik terkait kota mereka. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian program yang digelar antara Agustus hingga Oktober 2025 sebagai respons terhadap kebutuhan identitas budaya lokal dan penguatan peran pemuda dalam perumusan nama-nama taman yang ada di ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam konteks yang lebih luas, inisiatif ini muncul dari semangat Arah Pemuda yang diselenggarakan pada Juli 2025 di Banjarbaru, yang menekankan pentingnya partisipasi pemuda dalam kebijakan kota. Dokumentasi edisi ini mencatat perjalanan dari gagasan hingga implementasi awal, termasuk proses seleksi, pelibatan komunitas, serta dampak potensial terhadap pelestarian bahasa daerah dan identitas lokal.
Alasan utama kegiatan ini adalah fakta bahwa Banjarbaru memiliki sejumlah taman dan ruang terbuka yang belum diberi identitas yang kuat, baik secara narasi maupun bahasa. Banyak taman hanya dikenal berdasarkan lokasi atau ciri fisik semata, misalnya penyebutan berdasarkan jalan atau area sekitar, sehingga kurang mampu memancarkan makna budaya setempat. Melalui program Mangarani Taman, BASAkalimantan Wiki mendorong pemberian nama yang menggunakan Bahasa Banjar untuk mengangkat identitas daerah dan melestarikan bahasa lokal. Langkah ini juga diharapkan menjadikan taman-taman tersebut lebih berkesan bagi warga dan pengunjung, karena makna yang terkait dengan budaya daerah dapat dipahami secara lebih mendalam. Pengenalan ukuran makna bahasa dan budaya menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian bahasa Banjar sebagai bagian dari identitas regional yang kaya makna.
Acara WPP#3, bagian dari rangkaian Wikithon Partisipasi Publik, dilaksanakan di SMKN 1 Banjarbaru dengan partisipasi sekitar 72 pelajar. Tim BASAkalimantan Wiki hadir untuk memfasilitasi sesi, menjelaskan tujuan, serta memandu siswa dalam proses pengisian kuisioner pra-tes terkait penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari pemuda. Kegiatan ini tidak sekadar mengumpulkan usulan nama, tetapi juga menyiapkan peserta dengan keterampilan seperti pemecahan masalah, pemikiran kritis, dan penulisan persuasif. Tujuan pelatihan ini adalah memastikan bahwa ide-ide yang diajukan memiliki landasan yang kuat secara logika, filosofis, dan relevan dengan konteks budaya Banjar, sehingga nama yang dihasilkan tidak hanya unik tetapi juga bermakna.
Konsep utama Mangarani Taman adalah memberdayakan pemuda untuk menamai taman-taman publik dengan nuansa budaya lokal yang dalam, bukan hanya deskripsi lokasi. Upaya ini sejalan dengan upaya pelestarian bahasa Banjar dan identitas daerah, karena penamaan yang berasal dari bahasa asli memberi nilai historis dan simbolik yang lebih kuat. Proses ini juga menekankan bahwa penamaan taman bukan sekadar penamaan fasilitas publik, melainkan sebuah praktik budaya yang menghubungkan warga dengan ruang publik melalui bahasa dan simbol-simbol kearifan lokal. Dengan demikian, hasil wikithon diharapkan tidak hanya menghasilkan daftar nama, tetapi juga narasi-narasi singkat yang menjelaskan makna di balik setiap nama.
Dalam rangkaian kegiatan, tercatat bahwa para peserta mengajukan sejumlah besar usulan nama—ratusan responden memberikan ide-ide mereka. Selanjutnya, BkW melakukan proses kurasi yang menghasilkan sekitar 30 nama yang layak mendapat perhatian lebih lanjut. Penilaian akhir dilakukan oleh tiga juri yang berasal dari latar belakang berbeda: kepala dinas terkait perumahan dan permukiman kota Banjarbaru, seorang pegiat budaya, dan seorang akademisi ahli Bahasa Banjar. Proses seleksi ini menekankan kombinasi antara nilai budaya, makna bahasa, serta potensi implementasi di lapangan, sehingga nama-nama terpilih tidak hanya kreatif tetapi juga dapat diterapkan secara konkret di ruang-ruang publik.
Hasil akhir menetapkan empat pemenang dengan dua kategori: umum dan pelajar. Untuk kategori umum, pemenang pertama adalah Karindangan, sedangkan pemenang kedua adalah Basimban Himung Barataan. Sementara itu, untuk kategori pelajar, juara pertama adalah Palindangan Bapala dan juara kedua adalah Bauntung. Keempat nama tersebut direncanakan akan diberikan kepada empat taman yang berbeda, meliputi taman di simpang empat, Taman Guntung Paikat, Taman di Komplek Cahaya Bidang, serta taman di Landasan Ulin. Pemilihan nama-nama ini mencerminkan upaya mengaitkan ruang publik dengan makna budaya Banjar, antara kebutuhan fungsi ruang publik dan pelestarian bahasa lokal dalam konteks kota Banjarbaru.
Bagian Dialog Kebijakan #1 menampilkan diskusi intensif antara BASAkalimantan Wiki, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim), serta para pemuda pemenang dan komunitas pemuda lainnya. Dalam dialog tersebut, beberapa usulan nama dipresentasikan, seperti Karindangan untuk taman Guntung Paikat, Karindangan dianggap mewakili perasaan rindu warga terhadap suatu tempat; Sementara nama lain seperti Bumi Cahaya Bintang menggambarkan lokasi yang bercahaya secara simbolik. Proses diskusi menekankan bahwa penggunaan Bahasa Banjar adalah syarat penting, sehingga setiap usulan diharapkan tidak sekadar menarik secara estetik tetapi juga konsisten dengan identitas budaya daerah. Para fasilitator menegaskan pentingnya narasi di balik setiap nama melalui plang atau prasasti yang menjelaskan proses pemberian nama dan maknanya, sehingga pengunjung taman dapat memahami kronologi dan nilai-nilai yang terilhami dari bahasa dan budaya setempat.
Hasil diskusi dibagi ke dalam empat kelompok kerja, masing-masing fokus pada satu nama taman. Beberapa rekomendasi yang diusulkan antara lain penetapan nama Taman Karindangan untuk simpang empat karena posisinya dianggap strategis dan memiliki makna rindu yang kuat; dan usulan untuk taman Landasan Ulin agar dinamai dengan sebutan Basimban Himung Barataan, berangkat dari konsep bahwa area tersebut dilengkapi fasilitas bermain yang membuat anak-anak merasa aman dan bahagia. Selain itu, para fasilitator menekankan pentingnya pranala narasi pada prasasti untuk menjelaskan proses pemberian nama dan melibatkan publik dalam membaca cerita di balik nama tersebut. Diskusi juga menggarisbawahi dukungan dari pihak dinas terkait terhadap pelaksanaan inisiatif ini, dengan harapan bahwa empat nama taman baru dapat diimplementasikan terlebih dahulu, sebagai langkah awal dari program yang lebih luas.
Para pejabat dan pemangku kepentingan yang hadir menekankan dukungan kuat dari Dinas Perkim Banjarbaru dalam menginisiasi pemberian nama-nama taman dengan memakai bahasa Banjar. Kepala dinas menegaskan penghargaan terhadap partisipasi pemuda dan menilai bahwa proses ini memberi peluang bagi pelajar dan komunitas pemuda untuk terlibat secara nyata dalam kebijakan publik. Selain itu, beberapa tokoh komunitas pemuda menyatakan apresiasi terhadap kesempatan belajar dan partisipasi, menyatakan bahwa pengalaman ini meningkatkan pemahaman mereka tentang bagaimana kebijakan kota dibentuk dan bagaimana masukan publik dapat mempengaruhi hasil akhir. Tindakan kolaboratif antara dinas, sekolah, dan organisasi lokal menjadi contoh praktik demokrasi partisipatif yang praktis dan relevan bagi kota yang sedang berkembang urbannya.
Secara keseluruhan, inisiatif Mangarani Taman melalui BASAkalimantan Wiki menandai langkah penting dalam meningkatkan keterlibatan pemuda dalam perwujudan ruang publik yang bernilai budaya. Proses ini tidak hanya menghasilkan nama-nama yang bermakna, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa bahasa Banjar dapat menjadi unsur pengikat identitas kota. Pelibatan pemuda dalam pengambilan keputusan terkait penamaan taman membawa manfaat edukatif, meningkatkan kesadaran kritis, serta membuka peluang bagi penguatan narasi budaya melalui bahasa daerah. Dengan dukungan dari pemangku kepentingan dan komunitas, rencana untuk memasang plang naratif dan mengimplementasikan empat nama taman sebagai langkah awal diyakini dapat menjadi contoh bagi inisiatif serupa di wilayah lain, serta memperkuat reputasi Banjarbaru sebagai kota yang menghargai budaya lokal melalui kebijakan publik yang inklusif.
BASAKALIMANTAN WIKI EDISI ke-6 (Agustus - Okotber 2025) (IND) - Flipbook by Fleepit