Stunting adalah kondisi pertumbuhan terhambat pada balita akibat kekurangan gizi kronis, yang berdampak pada tinggi badan relatif terhadap usia serta potensi perkembangan otak dan kognitif. Jika tidak diatasi sejak dini, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif di kemudian hari dan berdampak pada kualitas sumber daya manusia serta daya saing bangsa. Data Indonesia menunjukkan penurunan prevalensi stunting dari sekitar 27,7% (2019) menjadi sekitar 19,8% (2024) menurut Survei Status Gizi Indonesia, menandakan keberhasilan beberapa upaya pencegahan.
(Halaman asli terkait: 3)
Stunting juga dibahas dari lensa budaya melalui naskah Sunda kuno, yang memuat panduan perawatan ibu dan bayi serta pemenuhan gizi sejak masa kehamilan. Kajian ini menekankan pentingnya gizi sejak hamil, praktik tradisional seperti pijat ibu dan bayi, serta penggunaan obat keluarga, dengan gambaran bahwa ibu berperan sentral dalam mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak.
(Halaman asli terkait: 6)
Program pencegahan berfokus pada Esensi 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) – mulai dari fase kehamilan hingga bayi dan balita 0–24 bulan – disertai dengan empat pilar 1000 HPK, jadwal imunisasi dasar, pemenuhan gizi balita, serta pemanfaatan sumber protein hewani seperti telur. Buku saku ini juga menyoroti Program Ayam Petelur Berkelanjutan sebagai upaya ketahanan pangan keluarga dan menekankan pemantauan tumbuh kembang serta pendampingan keluarga sebagai komponen kunci dalam menjaga kesehatan anak. Praktik-praktik dan program ini dijabarkan dalam Bab 3–Bab 7, dengan rujukan halaman yang mencakup 7, 12–16.
(Halaman asli terkait: 7, 12–16)
SIGAP! STUNTING - KKN UNDIP DESA KLEWOR - Flipbook by Fleepit