RAKAT edisi 8 KAWIN ANUM

RAKAT




RAKAT

HABAR BASAIBU WIKI-KALIMANTAN EDISI KE-8 (JANUARI - MARET 2026) Kampanye Kreatif dan Bilik Bercerita Isu Kesehatan Mental di Ruang Publik Banjarbaru Pelajar Diajak Bicara “4 Mata”; Upaya Cegah Kawin Anum di Kalsel Dialog Pemuda– Pemerintah Dorong Solusi Pencegahan Kawin Anum di Kalsel Kampanye Digital Jadi Strategi Tekan Perkawinan Anak di Kalsel @basakalimantanwiki 1 www.basakalimantanwiki.org

RAKAT

Kampanye Kreatif dan Bilik Bercerita

Isu Kesehatan Mental di Ruang Publik Banjarbaru Kegiatan komunitas pemuda saat kampanye implementasi isu “Kesehatan Mental” di Nol Kilometer Wabul Sawi Banjarbaru. (foto: BiWK) Suasana berbeda tampak di kawasan Lapangan Murdjani dan Mingguraya, Banjarbaru, Jumat (30/1/2026). Isu kesehatan mental yang biasanya dibahas dalam forum formal, kali ini hadir dengan pendekatan yang lebih segar dan dekat dengan masyarakat— melalui aksi kreatif komunitas cosplay. Kegiatan yang diinisiasi BASAibu Wiki-Kalimantan ini menjadi bagian dari diseminasi sekaligus implementasi isu kesehatan mental. Para cosplayer tampil membawa poster dengan pesan reflektif dan suportif, seperti “Kamu Tetap Berharga Walau Lagi Gak Produktif” dan “Tak Mengapa Merasa Lelah, Asal Jangan Menyerah”. Pesan-pesan tersebut berhasil menarik perhatian pengunjung dan membuka ruang percakapan, khususnya di kalangan anak muda. Tak hanya kampanye visual, tersedia pula enam Bilik Bakisah —ruang konseling terbuka yang memberikan kesempatan bagi pemuda untuk berbagi cerita dan keresahan. Kehadiran ruang aman ini menjadi langkah awal yang penting dalam menjaga kesehatan mental secara kolektif. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Wikithon Partisipasi Publik (WPP) #4 yang telah digelar pada November– Desember 2025. Dalam rangkaian tersebut, pemuda dilibatkan untuk merumuskan gagasan dan solusi terkait isu kesehatan mental, yang kemudian dibahas bersama berbagai pihak, mulai dari pelajar, akademisi, hingga instansi pemerintah. Dari proses tersebut, lahirlah sebuah policy brief dengan tiga rekomendasi utama: penguatan hotline layanan kesehatan mental, pelatihan konselor sebaya, serta kampanye kesehatan mental berbasis komunitas baik secara digital maupun offline. Koordinator Program BASAibu Wiki-Kalimantan, Hudan Nur, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata peran pemuda dalam mengimplementasikan hasil partisipasi publik. Hal ini juga mendapat apresiasi dari DP3APMP2KB Kota Banjarbaru, yang menilai pendekatan kreatif seperti Bilik Bakisah mampu menjadi langkah efektif dalam membantu individu mengelola persoalan mental. Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan policy brief oleh perwakilan pemuda lintas komunitas. Dari ruang publik ini, suara anak muda Banjarbaru kembali menegaskan bahwa kesehatan mental adalah isu bersama yang perlu dirawat secara berkelanjutan.(BiWK) “Bilik Bercerita” bentuk implementasi isu “Kesehatan Mental” dengan melibatkan konselor sebaya. (foto: BiWK)

Kampanye Kreatif dan Bilik Bercerita

Kegiatan Bakunjang BASAibu Wiki-Kalimantan di MAN 4 Banjar. (foto: BiWK)

Pelajar Diajak Bicara “4 Mata”; Upaya Cegah Kawin Anum di Kalsel isu pernikahan usia anak atau kawin anum masih menjadi persoalan serius di Kalimantan Selatan. Meski batas usia menikah telah diatur dalam undang-undang, praktik ini masih ditemukan di berbagai wilayah dan bahkan dekat dengan kehidupan remaja sehari-hari. Merespons kondisi tersebut, BASAibu Wiki-Kalimantan menginisiasi kegiatan Wiki Bakunjang di sejumlah sekolah sebagai ruang diskusi terbuka bagi pelajar. Berbeda dari pendekatan formal, kegiatan ini menggunakan bahasa daerah—khususnya Bahasa Banjar—untuk menciptakan suasana dialog yang lebih cair dan partisipatif. Melalui pendekatan “bicara 4 mata”, pelajar diajak untuk lebih berani menyampaikan pandangan, pengalaman, hingga keresahan mereka terkait praktik kawin anum. Diskusi ini tidak hanya membuka wawasan, tetapi juga memperlihatkan bahwa sebagian remaja masih menyaksikan langsung fenomena tersebut di lingkungan sekitar. Dalam forum tersebut, turut disampaikan bahwa Kalimantan Selatan masih termasuk daerah dengan angka pernikahan usia anak yang relatif tinggi di Indonesia. Faktor ekonomi, keterbatasan pendidikan, norma sosial, hingga minimnya ruang aman bagi remaja menjadi penyebab utama yang mendorong praktik ini terus terjadi. Para pelajar pun menyuarakan pandangan kritis. Mereka menilai usia remaja seharusnya menjadi masa untuk belajar dan merencanakan masa depan, bukan terburu-buru memasuki pernikahan. Selain itu, risiko kesehatan reproduksi dan kesiapan mental juga menjadi perhatian penting dalam diskusi tersebut. Melalui kegiatan ini, BASAibu Wiki-Kalimantan menempatkan edukasi sebagai langkah preventif utama. Dengan membuka ruang dialog yang aman dan relevan bagi remaja, diharapkan kesadaran kolektif untuk menolak praktik kawin anum dapat terus tumbuh—dimulai dari lingkungan pelajar itu sendiri. (BIWK) Kegiatan Bakunjang BASAibu Wiki-Kalimantan di SMK 1 Binuang dan SMA Binuang. Kabupaten Rantau. (foto: BiWK)

Kegiatan Bakunjang BASAibu Wiki-Kalimantan di MAN 4 Banjar. (foto: BiWK)

Dialog Pemuda–Pemerintah Dorong Solusi

Pencegahan Kawin Anum di Kalsel Isu kawin anum atau pernikahan usia anak masih menjadi tantangan serius di Kalimantan Selatan. Data menunjukkan angka pernikahan anak usia 15–19 tahun di daerah ini masih tergolong tinggi, bahkan menempatkan Kalsel sebagai salah satu provinsi dengan angka tertinggi di Indonesia. salah satu gagasan utama yang mengemuka adalah pentingnya kampanye masif melalui media sosial. Konten kreatif seperti video edukasi, flyer digital, hingga lomba video pendek dinilai efektif untuk meningkatkan kesadaran, tidak hanya bagi remaja, tetapi juga orang tua. KDialog isu “Kawin Anum” dengan melibatkan sejumlah instansi pemerintah dan kelompok pemuda. (foto: BiWK) Merespons kondisi tersebut, BASAibu WikiKalimantan menggelar Dialog Kebijakan Publik #1 sebagai ruang pertemuan setara antara pemuda dan pemerintah. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Wikithon Partisipasi Publik #5, yang sebelumnya berhasil menjaring ratusan gagasan dari pelajar dan mahasiswa terkait pencegahan kawin anum. Koordinator Program BASAibu Wiki-Kalimantan menegaskan bahwa dialog ini bertujuan memastikan suara pemuda tidak berhenti pada wacana, melainkan dapat diwujudkan menjadi aksi konkret melalui kolaborasi lintas sektor. Pendekatan partisipatif ini diharapkan mampu melahirkan solusi yang lebih relevan dan berkelanjutan. Dialog yang berlangsung di Banjarbaru ini menghadirkan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, aparat, hingga komunitas pemuda. Dalam forum ini, ide-ide terbaik dari peserta Wikithon didiskusikan untuk diterjemahkan menjadi langkah nyata yang bisa diimplementasikan secara kolaboratif. Pemerintah daerah pun menyambut baik inisiatif ini, mengingat persoalan perkawinan anak berkaitan erat dengan berbagai isu lain seperti kesehatan, pendidikan, hingga kemiskinan. Oleh karena itu, keterlibatan aktif pemuda dinilai menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan. Melalui dialog ini, BASAibu Wiki-Kalimantan menegaskan bahwa pencegahan kawin anum bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama yang melibatkan generasi muda sebagai aktor utama perubahan. Para peserta antusias mengikuti Dialog BiWK isu “Kawin Anum” yang dilaksanakan di BPMP Provinsi Kalsel di Banjarbaru. (foto: BiWK)

Dialog Pemuda–Pemerintah Dorong Solusi

Kampanye Digital Jadi Strategi

Tekan Perkawinan Anak di Kalsel Dialog BiWK isu “Kawin Anum” menghasilkan sejumlah solusi yang akan diimplemetasikan secara kolaboratif. (foto: BiWK) Upaya menekan angka perkawinan anak di Kalimantan Selatan terus didorong dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satunya melalui kampanye digital yang dirancang BASAibu WikiKalimantan sebagai bagian dari gerakan edukasi publik berbasis pemuda. Kampanye ini hadir sebagai respons atas masih tingginya praktik perkawinan usia anak, yang dipengaruhi berbagai faktor seperti tekanan sosial, ekonomi, hingga kurangnya akses informasi yang tepat bagi remaja. Melalui ruang digital, pesan-pesan edukatif diharapkan dapat menjangkau lebih luas, terutama generasi muda yang akrab dengan media sosial. Penandatanganan komitmen dalam mengawal implementasi isu “Kawin Anum”. (foto: BiWK) Dalam perancangannya, kampanye ini tidak hanya berfokus pada penyebaran informasi, tetapi juga mengedepankan kreativitas konten. Mulai dari visual, video, hingga narasi yang dekat dengan keseharian remaja, sehingga pesan pencegahan dapat diterima dengan lebih relevan dan tidak menggurui. Langkah ini juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan partisipasi publik yang sebelumnya telah melibatkan pemuda dalam merumuskan solusi atas isu perkawinan anak. Dengan demikian, kampanye digital tidak hanya menjadi media sosialisasi, tetapi juga bentuk implementasi nyata dari gagasan yang lahir dari suara anak muda itu sendiri. Melalui pendekatan ini, BASAibu Wiki-Kalimantan berharap kesadaran kolektif masyarakat —khususnya remaja—dapat meningkat. Kampanye digital diharapkan menjadi jembatan edukasi yang efektif, sekaligus memperkuat gerakan pencegahan perkawinan anak secara berkelanjutan. (BIWK)

Kampanye Digital Jadi Strategi

MITRA PENTAHELIX

MITRA PENTAHELIX

www.basakalimantanwiki.org

www.basakalimantanwiki.org



Flipbook Gallery

Magazines Gallery

Catalogs Gallery

Reports Gallery

Flyers Gallery

Portfolios Gallery

Art Gallery

Home


Fleepit Digital © 2021