Dokumen ini merupakan publikasi resmi pemerintah Indonesia yang memuat cerita anak berbahasa dwibahasa Melayu Riau Indragiri Hilir, disusun untuk mendukung akses bahan bacaan berkualitas yang terjangkau dan relevan bagi dunia pendidikan. Diterbitkan pada tahun 2023 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), buku ini menegaskan komitmen negara terhadap pelestarian bahasa daerah sambil memperkaya literasi anak melalui kisah-kisah yang akurat secara budaya dan bahasa. Buku ini dirancang sebagai dokumen hidup yang senantiasa diperbaiki dan dimutakhirkan sejalan dengan dinamika kebutuhan pembaca serta perubahan zaman. Penulis menyambut masukan dari berbagai pihak melalui kontak buku@kemdikbud.go.id untuk meningkatkan kualitas karya ini secara berkelanjutan. (Hal. iii)
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau menyampaikan kata pengantar yang menekankan bahwa buku ini lahir dari sebuah sayembara penulisan cerita anak dwibahasa, yakni Melayu Riau dan Indonesia. Maksud utamanya adalah melindungi bahasa daerah sekaligus menyediakan bahan bacaan bermutu untuk meningkatkan minat baca anak serta mengembangkan budi pekerti. Buku ini diposisikan sebagai alat untuk menumbuhkan literasi dasar, yang mencakup numerasi, sains, finansial, digital, serta budaya, sehingga pembaca muda tumbuh menjadi individu yang berpikir kritis, kreatif, dan memiliki imajinasi kuat. Di samping itu, karya ini juga dianggap sebagai bagian dari gerakan literasi nasional dan tindak lanjut Kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-23 tentang Buku-Buku Bermutu untuk Literasi Indonesia. (Hal. iii)
Sekapur Sirih dalam halaman pengantar mengungkapkan harapan penulis bahwa naskah berbahasa Melayu Indragiri Hilir ini dapat diselesaikan dengan berkah dan manfaat untuk generasi Riau. Cerita-cerita dalam buku ini berpusat pada potensi kebun kelape sebagai sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat setempat, khususnya di Indragiri Hilir. Tujuan utama adalah meningkatkan pemahaman generasi muda tentang potensi ekonomi kelapa sawit serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan perkebunan. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Balai Bahasa Riau dan semua pihak yang telah memberikan dukungan, sehingga karya ini bisa dinikmati oleh pembaca. (Hal. iv)
Daftar Isi pada buku ini menampilkan struktur naratif yang menyeluruh, diawali dengan pembuka konsep serta rangka cerita utama, lalu diikuti dengan deretan bab yang mengangkat tradisi budaya sekitar kelape, tokoh-tokoh lokal, serta produk turunan kelape yang bernilai ekonomis dan budaya. Konsep ini dirancang untuk memperkenalkan pembaca pada kehidupan nyata komunitas Riau melalui lensa bahasa dwibahasa, sehingga pembaca tidak hanya memahami bahasa, tetapi juga nilai-nilai budaya, kerja sama, dan kemandirian. Cetakan pertama buku ini mencakup 36 halaman dengan ukuran kertas standar, terbit sejak Desember 2023. (Hal. v)
Negeri Hamparan Kelape Dunie membuka narasi dengan gambaran hamparan kebun kelape yang sangat luas dan berperan sebagai sumber mata pencaharian utama bagi keluarga-keluarga di wilayah Indragiri Hilir. Cerita ini menegaskan hubungan erat antara masyarakat lokal dan lingkungan perkebunan kelape, serta bagaimana kebun tersebut membentuk identitas ekonomi dan budaya setempat. Tujuan naratifnya adalah menumbuhkan rasa bangga pada kekayaan lokal, mendorong pelestarian praktik kebun yang berkelanjutan, dan memotivasi generasi muda untuk menjaga serta memahami potensi kelapa sebagai bagian integral dari kesejahteraan komunitas. (Hal. 1)
Tradisi Nganyut Kelape menggambarkan bagaimana budaya dan ritual berputar di sekitar kelape, menyiratkan nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, serta cara masyarakat menjaga kelestarian kebun melalui praktik tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Narasi ini menyorot pentingnya menjaga identitas budaya sambil tetap responsif terhadap perubahan ekonomi dan lingkungan. Pembaca diajak melihat bagaimana tradisi menjadi jembatan antara masa lampau dan keseharian masa kini, sekaligus memperkaya pemahaman tentang bagaimana bahasa dan budaya berinteraksi dalam konteks kehidupan nyata. (Hal. 6)
Atuk Nasir Menyolak Kelape mengangkat cerita tentang tokoh senior yang menghadapi tantangan perubahan dalam cara memanfaatkan kelape. Melalui peristiwa ini, pembaca diajak memahami dinamika perubahan tradisi, nilai-nilai kehati-hatian dalam mengambil keputusan, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara penghormatan terhadap warisan budaya dan adopsi praktik modern yang lebih efisien. Narasi ini menekankan sikap bijaksana, tanggung jawab sosial, dan bagaimana generasi tua bisa memberikan panduan berharga kepada generasi muda tanpa mengabaikan kebutuhan masa kini. (Hal. 10)
Rupe-rupe Olahan Kelape menyoroti ragam produk hasil olahan kelape yang jadi tulang punggung ekonomi komunitas. Bab ini menekankan bagaimana kultur kearifan lokal diintegrasikan ke dalam produk bernilai tambah, dari sumber daya alam hingga produk akhir yang dapat dipasarkan. Pembaca diperkenalkan pada potensi diversifikasi produk, proses produksi yang menjaga mutu, serta pentingnya kolaborasi antarpihak—petani, penjual, dan konsumen—untuk menjaga keberlanjutan ekonomi lokal. Nilai-nilai etika kerja, kualitas, serta inovasi diberi penekanan sebagai bagian dari proses literasi ekonomi. (Hal. 14)
Batik Tulis Kelape menampilkan dimensi seni visual yang berkembang dari inspirasi kelape. Dalam bab ini, motif-motif tradisional diinterpretasikan ke dalam batik tulis yang merefleksikan identitas budaya Riau Indragiri Hilir. Pembaca dapat melihat bagaimana bahasa artistik diterjemahkan ke dalam bentuk praktis yang memiliki nilai budaya dan komersial, serta bagaimana kreativitas tumbuh dari keterpaduan antara materi budaya dan teknik ketrampilan. Keberlanjutan budaya lewat desain batik ini menjadi contoh konkret bagaimana bahasa dan seni dapat hidup dalam karya modern. (Hal. 20)
Ikat Kepale dari Pelepah Kelape memaparkan proses pembuatan anyaman atau ikat yang berasal dari pelepah kelape. Bab ini tidak hanya menjelaskan teknik kerajinan, tetapi juga mengaitkannya dengan identitas komunitas dan peluang ekonomi bagi keluarga-keluarga petani kelape. Pembaca diajak memahami bagaimana keterampilan tangan tradisional tetap relevan dan bisa menjadi sumber pendapatan yang layak di era modern, sambil menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kemandirian komunitas. (Hal. 23)
Menggantungkan Ase Pade Buah Kelape membahas penggunaan bagian buah kelape sebagai bagian dari budaya konsumsi, ritual, atau simbol-simbol lokal. Narasi ini menyoroti bagaimana buah kelape berperan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk potensi manfaatnya untuk materi pelajaran karakter, kreativitas, serta pemahaman tentang sumber daya alam yang ada di sekitar mereka. Pesan utamanya adalah mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata: menghargai hasil bumi, berpikir kritis terhadap pemanfaatan sumber daya, dan menjaga lingkungan untuk masa depan. (Hal. 27)
Kelape Menjulang, Masyarakat Gemilang menutup rangkaian cerita utama dengan gambaran kemajuan komunitas yang lahir dari pengelolaan kebun kelape secara berkelanjutan. Cerita menunjukkan bagaimana kolaborasi antar warga, pemangku kepentingan, serta institusi pendidikan membentuk budaya kerja sama, menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif, dan meningkatkan kualitas hidup. Pesan utama adalah bahwa kemajuan wilayah dapat diraih melalui kombinasi kearifan lokal, literasi, inovasi, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta karakter bangsa. (Hal. 30)
Biodata Penulis menyajikan latar belakang penulis, termasuk pengalaman, visi menulis, serta komitmen terhadap pelestarian bahasa dan budaya daerah. Bagian ini memberikan konteks mengenai bagaimana pengalaman pribadi penulis membentuk narasi dan sudut pandang cerita, sekaligus mempertegas tujuan edukatif serta empati terhadap pembaca muda. Pembaca bisa lebih memahami hubungan antara penulis, karya, serta dampak terhadap pembentukan identitas budaya melalui literasi dwibahasa. (Hal. 35)
Biodata Ilustrator merinci profil sang ilustrator yang berkolaborasi dalam menghadirkan bahasa visual yang hidup untuk cerita-cerita dalam buku ini. Peran ilustrator tidak hanya mendukung pembacaan, tetapi juga memperkaya pengalaman sensorik pembaca melalui gambar-gambar yang menambah kedalaman bahasa dan nuansa budaya. Informasi ini memberi gambaran tentang proses kreatif di balik halaman-halaman buku, serta bagaimana karya visual berfungsi sebagai jembatan antara bahasa Melayu Riau dan bahasa Indonesia. (Hal. 36)
Secara keseluruhan, Negeri Hamparan Kelape Dunie adalah contoh nyata bagaimana literasi, budaya, dan bahasa dapat bersinergi untuk membentuk pembaca masa depan yang cerdas, berkarakter, dan berpikiran kritis. Buku ini tidak sekadar hiburan, melainkan wadah pembelajaran karakter yang selaras dengan Profil Pelajar Pancasila, serta membuka peluang bagi pembaca untuk memahami potensi ekonomi lokal melalui tema-tema kelapa sebagai bagian penting dari identitas regional. Dengan format dwibahasa, buku ini bertujuan memperkaya kosakata, memperluas pemahaman budaya, dan menginspirasi rasa ingin tahu yang berkelanjutan di kalangan anak-anak maupun pendidik. (Hal. 1; Hal. 6; Hal. 10; Hal. 14; Hal. 20; Hal. 23; Hal. 27; Hal. 30; Hal. 35; Hal. 36)