KAMI BEJAYE MEMETIK BULAN REVISI





KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI

REPUBLIK INDONESIA 2023 Kami Bejaye Memetik Bulan Melisa Nofem Cerita Anak Berbahasa Melayu Riau Dialek Indragiri Hulu

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI

Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Republik Indonesia Dilindungi Undang-Undang Penafian (disclaimer): Buku ini disiapkan oleh Pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan buku pendidikan yang bermutu, murah, dan merata sesuai dengan amanat dalam UU No.3 Tahun 2017. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku ini merupakan dokumen hidup yang senantiasa diperbaiki, diperbarui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan yang dialamatkan kepada penulis atau melalui alamat surel buku@kemdikbud.go.id diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini. Kami Bejaye Memetik Bulan Penulis Melisa Nofem Ilustrator Koen Setyawan Penyunting Afriyendy Gusti Penelaah Noezafri Amar Penyelia Endry Satya Ramadhan Penanggung Jawab Toha Machsum Penata Letak Supri Ismadi Penerbit Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Dikeluarkan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau Jalan Bina Widya, Kompleks Universitas Riau, Panam, Pekanbaru 28293 Laman: balaibahasariau.kemdikbud.go.id Cetakan Pertama, Desember 2023 ISBN Isi buku ini menggunakan huruf Verdana 16 pt, v , 45 hlm: 21 X 29,7 cm. ii

Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

KATA PENGANTAR KEPALA BALAI BAHASA PROVINSI RIAU

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. karena atas rahmat dan berkat-Nya, penerbitan buku ini dapat terwujud hingga berada di tangan pembaca. Alhamdulillah. Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan hasil sayembara penulisan buku cerita anak dwibahasa, yakni bahasa Melayu Riau dan bahasa Indonesia. Kehadiran buku ini menegaskan upaya Balai Bahasa Provinsi Riau untuk melindungi bahasa daerah sekaligus memenuhi ketersediaan bahan bacaan bermutu bagi masyarakat dan dunia pendidikan. Penyediaan bahan bacaan bermutu berupa cerita rakyat dalam dwibahasa sangat bermanfaat bagi peningkatan minat baca anak guna menumbuhkan budi pekerti. Sebagai bagian penting dalam penumbuhan budi pekerti, minat baca anak perlu dipupuk sejak dini yang di mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, sampai dengan masyarakat. Minat baca yang tinggi dan ketersediaan bahan bacaan yang bermutu dan menarik bagi anak akan mendorong mereka terbiasa membaca, baik di sekolah maupun di masyarakat. Melalui membaca ini pula, literasi dasar seperti numerasi, sains, finansial, digital, serta budaya diharapkan dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. Oleh karena itu, kehadiran buku ini juga dimaksudkan sebagai bahan penguatan untuk mendukung gerakan literasi nasional dan tindaklanjut Merdeka Belajar Episode ke-23 tentang Buku-Buku Bermutu untuk Literasi Indonesia. Isi cerita dalam buku ini insyaallah bermanfaat sebagai salah satu sarana atau media pendidikan karakter karena cerita yang sarat dengan nilainilai yang dapat mengemban fungsi praktis, yaitu membangun karakter pembaca. Karakter yang sedang dibangun tersebut adalah karakter Profil Pelajar Pancasila. Selanjutnya, kami mengharapkan cerita dalam buku ini bisa menjadi stimulus untuk membangun imajinasi dan kompetensi berpikir kritis serta mengembangkan kreativitas dan ketajaman intuisi. Penerbitan buku ini tidak terlepas dari kerja keras penulis, ilustrator, penelaah, penerjemah, penyelia, penyunting, tim produksi, dan penata letak. Untuk itu, kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penerbitan buku ini. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat dan berkontribusi bagi upaya pembangunan budaya literasi dan pencerdasan anak bangsa menuju insan Indonesia yang cerdas, kompetitif, dan berkarakter. Amin. Pekanbaru, 21 September 2023 Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Toha Machsum, M.Ag. iii

KATA PENGANTAR KEPALA BALAI BAHASA PROVINSI RIAU

SEKAPUR SIRIH

Puji syukur berkat rahmat dan kehadiran-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan buku cerita anak dwibahasa ini yang berjudul “Kami Bejaye Memetik Bulan”. Cerita dalam buku ini menggunakan bahasa daerah Melayu dialek Inhu dan Bahasa Indonesia. Buku ini saya tulis dengan tujuan untuk memberikan angin segar dalam dunia sastra anak terutama sastra anak berbahasa Melayu dari daerah Riau. Memberikan sajian cerita anak yang edukatif dan menarik di tengah gempuran teknologi dan menyusutnya literasi anak bukanlah hal yang mudah. Apalagi zaman yang terus berkembang sehingga segalanya berubah semakin masif. Perlu dukungan dari berbagai pihak untuk dapat menciptakan bacaan untuk anak dan menumbuhkan kembali minat baca anak saat ini. Di samping itu bahasa Melayu juga kian tergerus karena jarang digunakan dan tidak banyak literatur yang mengabadikannya. Maka dari itu bahasa Melayu harus terus dilestarikan salah satunya dengan pengenalan sastra pada anak sejak dini. Pengenalan bahasa ini dapat dilakukan salah satunya melalui buku cerita anak berbahasa Melayu. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan memberi masukan dalam penyusunan buku ini. Saya menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kata sempurna, dengan kerendahan hati saya menerima masukan dan kritikan yang membangun seraya mengucapkan banyak terima kasih. Salam literasi! Penulis Melisa Nofem iv

SEKAPUR SIRIH

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................iii Sekapur Sirih.................................................................... iv Daftar Isi........................................................................... v Bagian1 : Mengingat Mase Lalu.......................................... 1 Bagian2 : Memaknai Hidop................................................ 4 Bagian3 : Merase Jenoh.................................................... 6 Bagian4 : Mencari Arti Mimpi........................................... 10 Bagian5 : Merase Bimbang.............................................. 13 Bagian6 : Berita Tak Disangke-sangke............................... 16 Bagian7 : Balek ke Kampong Seberang............................. 19 Bagian8 : Mengulang Memori........................................... 23 Bagian9 : Potret Sekolahku Dulu...................................... 27 Bagian10 : Mengajar........................................................ 30 Bagian11 : Balek Lagi ke Jogja.......................................... 32 Bagian12 : Jujor Kepade Bapak dan Mamak......................... 34 Bagian13 : Memileh Jalan Hidopku..................................... 37 Bagian14 : Titik Balek....................................................... 39 Bagian15 : Kami Bejaye Memetik Bulan.............................. 41 Biodata Penulis................................................................. 44 Biodata Ilustrator............................................................. 45 v

DAFTAR ISI

Bagian Satu: Mengingat Mase Lalu

Di lereng-lereng Kadang mereka terpeleset Jatuh Dan mendaki lagi Memetik bulan Di puncak Mereka oleng Tapi mereka bilang Kami takkan karam Dalam lautan bulan Mereka bernyanyi-nyanyi Jatuh Dan mendaki lagi Mereka berhasil memetik bulan Mereka menyimpan bulan Dan bulan menyimpan mereka Di puncak Semuanya diam dan tersimpan MACAM tu lah bait salah satu puisi karye Sutardji Calzoum Bachri, penyair dari Indragiri. Aku tutop buku puisi tu. Kubuke lagi, kututop lagi, berkali-kali. Aku tengok pohon-pohon kat dopan rumah, sesekali ade burong yang hinggap lepas tu pogi lagi tobang entah kemane. Langit malam ni rasenye terang betol. Semakin malam semakin pule dinginnye. Tapi ntah ngape aku rase tak nak cepatcepat masok rumah. Dudok di teras surang-surang, membace buku, dan sesekali menenggok kopi, bikin hatiku terase tonang sekejap. Malam makin larut, aku masih dudok di teras rumah saje. Menghirop udare malam. Entahlah, malam ni rase banyak betol beban dalam pikiranku tapi aku pon tak tau ape. Kopi di golas dah habes, orang-orang pon dah tak ade yang lewat dopan rumahku lagi. Suasane makin sepi dan aku rase makin tenang je. Aku rabe lagi buku puisi di tanganku, membuke halaman demi halaman. Membacenye dengan seksame. Semilir angin malam menemani rase sepiku. Aku lahir dan besar di Desa Seberang, salah satu desa terpencil di Indragiri Hulu. Butoh waktu sekitar empat jam untuk sampek di 1

Bagian Satu: Mengingat Mase Lalu

Pekanbaru, Ibukote Provinsi Riau. Kalau nak sampek di desaku mesti

nyebrang sunge Indragiri, nyebrangnye pakai semacam sampan bertenage mesen yang biase kami sobot dengan Kompang. Bapakku koje di perkebonan sawet waktu tu, barulah selepas SMA kami sekeluarge pindah ke Jogja. Kami pindah ni pon bukan pindah-pindah je, waktu tu aku memang nak kuliah di Jogja dan Bapak kate dah waktunye juge die nak pensiun sekalian cube nak bukak usahe, biar adek-adekku pon bise sekolah kat sini. Sebab nantik kalau adek-adekku kuliah dan aku koje masih bise dekat sama Mamak dan Bapak. Macam tulah mulenye dan waktu teros berjalan sampek sekarang aku dah lulos kuliah dan bekoje kat sini. Kampong Seberang tuh dah rase lame tertinggal jaoh dalam ingatan hidopku, ingatan tentang mase kecikku, dan ingatan tentang kawan-kawanku yang rate-rate aku dah tak tau macam mane kabar mereka mase sekarang ni. Aku teringat mase- mase kecikku dulu dengan kawan-kawan, tiap sore mandi kat sungai, manceng ikan, manjat pokok kelape dan masih banyak lagi ceritenye. Semue tu rase sonang je, dah lame tak merase mecam tu dan rasenye dah lame pulak aku tak nampak budak- budak sekolah kat sini yang hari-hari buat macam tu. Hmm, tersentak rasenye dalam hatiku. Dah lame betollah rasenye ye aku tak balek kampong. Kawan-kawanku di sane macam mane, ape kabarnye, dan ape koje orang tu sekarang ye. Dulu tiap-tiap hari je aku maen kat sunge, kat ladang, pulang sekolah lopas baju langsong melala. Ya macam tulah hidop ye, semue ade masenye masing-masing. Jarum di jam tanganku dah menunjokkan jam satu dini hari. Sebenarnye aku masih nak dudok lame-lame di teras ni, nyaman betol rasenye. Dunie rase berenti sekejap, aku betol- betol rase penat dan bosan akhir-akhir ni. Koje di kantorku padat sangat sehingge aku pon lebeh banyak menghabeskan waktu di kantor dan di perjalanan nak pogi ke kantor saje. Hirok pikok kote semakin buat aku tak nyaman. Tapi macam mane pon aku haros bersyukor atas koje dan segale hal yang aku punye sekarang. “Ki, tak tidor ke? Dah malam betol ni. Kau kan koje besok pagi. Masoklah nantik masok angin pulak kau.” Bapak memanggelku dari dalam rumah. “Iye Pak, ni dah nak masok.” Aku menyaot dari luar. 2

Pekanbaru, Ibukote Provinsi Riau. Kalau nak sampek di desaku mesti

“Iye Pak, ni dah nak masok.” Aku menyaot dari luar.

3

“Iye Pak, ni dah nak masok.” Aku menyaot dari luar.



Flipbook Gallery

Magazines Gallery

Catalogs Gallery

Reports Gallery

Flyers Gallery

Portfolios Gallery

Art Gallery

Home


Fleepit Digital © 2021